Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 6

Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 6

 Tradingan.com - Akhirnya pagi pun tiba dan hujan turun dengan derasnya. Para perwira dan panglima telah kehabisan tenaga. Mereka terus-terusan melihat bendera musuh di sekitar mereka. Akhirnya para perwira mengkhianati panglima mereka sendiri. Mereka mengikat Tanjung Palaka saat ia sedang tidur kecapaian dan mengantarnya ke Chen Mien.

Melihat hal itu Chen Mien langsung memerintah tentaranya untuk menghukum mati para perwira musuh,


“Aku paling benci para pengkhianat. Apabila panglima kalian saja bisa kalian khianati seperti ini, bagaimana dengan aku yang hanyalah perwira kecil,” kata Chen Mien dengan wajahnya yang penuh amarah.

Chen Mien langsung mengambil pisau kecil dan memotong semua tali yang mengikat panglima Tanjung Palaka serta memberinya mantel agar panglima itu terhindar dari derasnya air hujan,

“Apa-apaan ini,” tanya panglima yang sedang kebinggungan itu.
“Anda adalah panglima yang hebat. Aku benar-benar kagum pada anda sejak pertama kali kita berperang,” jawab Chen Mien.
Panglima Palaka itu terharu lalu bersujud di depan Chen dan berkata, “Aku juga sangat kagum pada anda. Anda tidak hanya kuat dan jantan, namun anda juga memiliki hati nurani yang besar. Aku Tanjung Palaka merasa sangat terhormat dapat gugur ditangan anda.”

Chen Mien langsung mempersilahkan ia berdiri dan membujuknya untuk bergabung dengan Panglima Wijaya. Ia langsung setuju dan bersumpah untuk rela mati memperjuangkan ambisi Wijaya untuk menguasai Nusantara.

Dengan bergabungnya Tanjung Palaka ratusan ribu rakyat ikut senang, karena negeri Kertanegara kuno yang telah terpecah belah, kini telah menyatu kembali. Panglima Wijaya sendiri datang ke negeri selatan dan saat ia bertemu dengan Tanjung Palaka, mereka langsung berpelukan. Ratusan ribu rakyat langsung menangis terharu karena mereka sekarang dapat bertemu kembali dengan sanak saudaranya yang terpisah lama, sejak kerajaan Kertanegara di pecah belah. Upacara itu juga sekaligus melantik Wijaya menjadi Jendral dan menguasai wilayah Kertanegara yang dulu.

Namun upacara itu tidak berakhir dengan bagus. Ada seorang tentara yang terluka berat dan berkuda ke arena upacara. Tentara itu langsung jatuh dari kuda pada saat ia melihat Jendral Wijaya,

“Perkemahan kita diserang tentara Kediri,” kata tentara itu dan menghembus napas terakhir.


Chen Mien langsung memimpin puluhan ribu tentara ke daerah itu dan menemukan banyak mayat. Para rakyat mengatakan bahwa banyak orang yang diculik termasuk putri Dwimurni sendiri. Perwira Chen langsung terdiam dan tidak dapat berkata apa-apa.

Ternyata hal licik itu dilakukan oleh panglima dari Kediri, panglima Merauke. Serangan tiba-tiba itu dilakukan untuk menghancurkan kekuatan Wijaya pada saat ia tidak siap. Serangan itu berhasil, dan WIjaya harus membangun ulang kerajaannya dalam waktu paling sedikit satu setengah tahun. Putri Dwimurni ditahan di kamar panglima Merauke siang dan malam. Lanjut baca!


Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 5

Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 5

 Aopok.com - Pada keesokan harinya, perang besar dimulai. Di suatu daerah dekat perbatasan, terbentanglah sawah yang luas. Terlihatlah para petani yang sedang menanam padi. Salah seorang petani terlihat lelah dan sedang berdiri sebentar untuk beristirahat setelah ia capek membungkuk lama. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari jauh. Terjadilah gempa yang dahsyat. Air di sawah itu pun bergetar, dari pelan hingga menjadi besar. Petani itu menjadi binggung. Saat ia melihat keteman-temannya, semua petani lain pun terlihat binggung. Lalu ia mendengar suara dari atas langit.


Saat ia menoleh ke atas, terlihatlah ratusan burung terbang dengan cepat bagaikan menjauhi sesuatu daerah. Petani itu lalu melihat ke arah burung itu datang, dan saat itu ia baru sadar kalau ada asap debu yang mengepul besar ke atas. Ia menjadi takut, dan binggung entah harus kabur kemana, karena didalam hatinya ia berpikir apabila terjadi topan badai yang besar, maka lari pun percuma saja. Kemudian ada seorang petani yang berteriak di atas bukit dari arah asap debu itu.

“Oi.. Ayo cepat kemari, lihat ini!!”.

Petani itu menjadi binggung karena temannya mengajaknya untuk mendekati ke arah datangnya asap debu itu.

“Apakah dia sudah gila” pikirnya dalam hati.

Tetapi ia melihat puluhan petani lainnya berlari ke atas bukit, maka akhirnya ia pun memberanikan dirinya untuk berlari ke atas bukit. Saat ia memanjat bukit, agaklah susah dilakukan karena gempa itu masih belum berakhir. Kemudian saat ia berhasil memanjat sampai ke atas, kini ia baru tahu apa yang sedang terjadi.

Sekitar ratusan ribu tentara berkuda menyerang dari sebelah timur dan menabrak ratusan ribu tentara berkuda lainnya yang menyerang dari sebelah barat. Tanah pun bergoncang hebat akibat perang yang menggila itu. Lebih dari tiga ratus ribu tentara terlibat dalam perang yang begitu dahsyatnya. Para petani tidak percaya apa yang baru saja mereka lihat. Tiba-tiba perang antar pasukan berkuda itu makin membesar dan para petani itu segera lari turun dari bukit itu, dan beberapa saat seketika perang itu menyebar hingga ke sawah.

Puluhan ribu tentara saling membunuh dan membuat sawah itu berubah menjadi warna merah darah. Ternyata tentara yang berperang adalah tentara Nawarjo dan tentara Wijaya. Penglima Nawarjo sendiri yang memimpin perang itu. Perang besar itu terus menyebar dan para tentara ada yang berperang sampai ke dalam hutan didekat daerah itu.

Dari jauh terlihatlah dua orang satria berbaju besi lengkap dan berkuda menerobos sekumpulan tentara. Setiap tentara yang melawan langsung habis dibabat. Ternyata mereka adalah perwira Chen Mien dan perwira Suwongso. Pasangan ganda itu berhasil menerobos ribuan tentara berkuda sampai ke sebuah kereta perang besar yang dijaga banyak tentara. Diatas kereta itu panglima Nawarjo memimpin pasukannya dalam berperang.

Melihat kedua perwira itu menyerang ke arahnya, maka Nawarjo memerintah tentara yang disekitarnya untuk memenggal perwira Suwongso. Ratusan tentara langsung menyerang membabi buta, namun badan Suwongso sangat besar, maka ia dapat menangkis serangan musuh dengan gampangnya. Suwongso lalu mengangkat salah seorang musuhnya lalu dilempar ke tentara lain.


“Cepat bunuh keparat Nawarjo, biar aku yang tangani cecurut ini,” teriak Suwongso.

Chen Mien langsung berkuda secepat kilat, ia lalu loncat dari kuda itu dan melayang sejauh tiga setengah meter. Lalu ia melempar tombaknya ke arah Nawarjo. Panglima Nawarjo lalu mengeluarkan pedangnya dan menangkisnya. Lanjut baca!


Viral Kisah Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 4

Viral Kisah Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 4

 Topoin.com - Karena putri Dwimurni tidak dapat berbincang-bincang dengan pria yang ditaksirnya, maka ia kembali kekamarnya. Pada malam harinya ia mendengar bahwa perwira Chen Mien telah selesai mengajar ayahnya bermain permainan penguasaan wilayah (salah satu dari permainan China kuno yang mirip dengan catur). Chen Mien pun telah kembali ke kamarnya. Putri Dwimurni mengetahui bahwa itu adalah malam terakhir baginya untuk bertemu dengan sang kekasih.


Ia-pun pergi ke kamar Chen, namun sampai tengah perjalanan di dalam istana, ia merasa malu dan kembali ke kamarnya. Ia terus-terusan gelisah karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan, maka setelah lama kemudian akhirnya ia berdiri dari ranjangnya dan memutuskan untuk menjengguk perwira Chen untuk yang terakhirnya.

Sesampainya ia dipintu kamar sendiri, di bukalah pintu itu dan tiba-tiba seorang pembantunya dataang dengan wajah penuh darah dan cabikan golok. Putri Dwimurni pun kaget dan berteriak.

“Putri, cepat kabur, pasukan Narwajo sudah berada dalam istana ini” kata pembantu itu, kemudian ia jatuh ke tanah dan mati seketika.

Putri Dwimurni segera lari keluar dari kamarnya dan menuju taman istana. Disana ia melihat ratusan tentara berperang dan mayat panglima Lorosawe terbaring diatas pancuran air taman.

“Ayah!!” teriak Dwimurni sambil menangis.

Kemudian ia sadar kalau di belakangnya ada seorang jahat, besar, dan penuh dengan otak busuk, berdiri dibelakanganya.

“Salam putri, Namaku Pamong, perwira tinggi yang paling dipercayai oleh panglima Narwarjo dalam melaksanakan setiap tugas.”

Pria itu badannya gendut sekali dan tingginya mencapai lebih dari dua meter. Ia lalu mengangkat golok besarnya dan bersiap untuk menghancurkan Dwimurni berkeping-keping. Tiba-tiba sebuah panah melesat menusuk lengan Pamong. Ternyata perwira Chen Mien telah datang dengan menaiki sebuah kuda. Ia melesat cepat dan mengendong putri Dwimurni ke atas kuda. Lalu mereka pun kabur sampai keluar istana.

Ratusan tentara mencoba mengejar dan membunuh mereka berdua, namun Chen Mien berhasil melindungi putri cantik itu sampai ke hutan. Namun tiba-tiba puluhan tentara bayaran muncul secara tiba-tiba didalam hutan itu. Karena harus melindungi putri itu, maka Chen Mien banyak menerima sabitan tombak dan pedang. Baju perang Chen terkoyak-koyak dan banyak darah mengalir keluar. Chen Mien terus bertahan sampai akhirnya puluhan orang itu berhasil dibunuh semua.

Putri Dwimurni duduk di depan Chen Mien dan dipeluk dari belakang agar aman. Pelukan hangat itu membuat putri Dwimurni merasa nyaman, lalu putri itu mendekatkan kepalanya ke dada Chen. Perwira Chen Mien lalu melihat wajah putri yang cantik dan terkena sinar bulan itu dengan pandangan yang hangat. Namun tiba-tiba perwira gendut Pamong muncul dengan ratusan tentara berkuda dari belakang. Chen lalu berkuda dengan kecepatan tinggi sampai keluar dari hutan itu.

Setelah sesaat kemudian perwira Pamong pun berhasil keluar dari hutan itu, namun ia tiba-tiba terdiam karena di depan hutan itu ada ribuan tentara Wijaya yang dipimpin oleh perwira Suwongso.


“Chen Mien, pergilah ke perkemahan sekarang, biar cecurut ini aku yang tangani”.

Chen Mien pun melesat cepat kabur. Badan Suwongso hampir sama besar dengan perwira Pamong. Karena mereka berdua mempunyai gengsi yang sama, maka mereka berdua turun dari kuda dan duel satu lawan satu, tanpa menggunakan senjata. Perkelahian mereka berdua disaksikan oleh ribuan tentara secara kagum. Dua perwira raksasa bergulat di bawah sinar rembulan berlangsung sangat seru. Tanah dan pasir pun terangkat dan teriakan mereka berdua membuat binatang-binatang disekitar kabur ketakutan. Mereka saling meninju dan membanting. Lanjut baca!


Kisah Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 3

Kisah Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 3

 Tradingan.com - Kini jendral Subodai berada dalam masalah besar. Ia tidak sanggup menahan malu di depan perwira Baatur.

“Aku memang makhluk tak berguna. Aku rela mencemarkan namaku dan tidak menaati perintah Ka-Khan (atau Kubilai Khan) hanya demi seorang wanita,” kata Subodai dengan kepala tertunduk.
“Setiap orang pasti dapat berbuat salah. Namun yang Jendral perbuat hanyalah kesalahan kecil. Cinta memang patut diperjuangkan,” jawab Baatur.


Mendengar hal itu Subodai kaget dan mengankat kepalanya. Baatur lalu melanjutkan,

“Aku sebagai perwira tentara Monggol, mengabdi setia kepada Jendral sejak dulu. Harap Jendral dapat mempercayakan hamba dalam menjaga rahasia ini. Namun sangat disayangkan bukan hanya hamba yang tahu akan rahasia ini”.
“Meng.. Chi..,” kata Subodai dengan suara pelan.

Sementara itu di perkemahan tentara Wijaya, Panglima Wijaya menugaskan perwira Chen Mien untuk memimpin tiga ratus pasukan untuk menyerang pasukan pemberontak yang dipimpin oleh panglima Nawarjo. Pada malam itu juga Chen Mien langsung berangkat dengan misi serangan mendadak ke perkemahan musuh.

Dahulu pada saat raja Kertanegara meninggal, banyak jendral lain yang kabur dan membentuk pasukan tersendiri. Negeri Kertanegara terbagi menjadi empat bagian. Yang pertama adalah negeri selatan yang dipimpin oleh panglima Tanjung Palaka. Yang kedua adalah negeri barat yang dipimpin oleh panglima Lorosawe. Yang ketiga berada di sebelah timur, berbatasan dengan kerajaan Kediri, dipimpin oleh panglima Nawarjo yang kuat dan haus perang. Dan yang terakhir adalah negeri utara Jawa yang dipimpin oleh panglima Wijaya.

Serangan pada malam hari itu ditujukan untuk merebut negeri timur sehingga tentara Wijaya dapat menyerang kerajaan Kediri dengan mudah. Perwira Chen Mien melakukan sistem formasi barisan gerak cepat, sehingga pasukan Chen Mien melewati perbatasan negeri Timur sebelum fajar. Saat matahari mulai menampakan dirinya, perwira Chen Mien telah sampai di depan gerbang benteng Nawarjo, namun tiba-tiba gerbang benteng terbuka dan sekitar tiga ribu tentara menyerang keluar.

Chen Mien sadar kalau panglima Nawarjo telah mengetahui serangan mendadak. Chen Mien segera memerintahkan tiga ratus tentaranya untuk mundur, tetapi dari belakang terlihatlah sekitar dua ribu pasukan yang dipimpin panglima Tanjung Palaka menyerang untuk membantu Nawarjo. Ternyata Nawarjo telah membentuk persekutuan dengan Tanjung Palaka dan Lorosawe sejak lama. Chen Mien memerintahkan tentaranya untuk melakukan serangan puputan ke arah Nawarjo.


Serangan menggila itu berhasil dan Chen Mien hampir memenggal kepala Nawarjo, namun Tanjung Palaka dengan menaiki kuda hitam datang pada saat yang tepat dan menahan tombak Chen Mien. Melihat hal itu Nawarjo segera kabur ke dalam benteng dan mengunci gerbangnya. Tiga ribu tentara Nawarjo dibiarkan berperang diluar membantu Tanjung Palaka. Keadaan begitu kacau dan duel diantara Tanjung Palaka dan Chen Mien berlangsung seru.

Chen Mien langsung melempar tombaknya ke arah Tanjung, namun tombak itu berhasil di elakkan. Tiba-tiba tombak yang dilempar itu tertarik kembali ke tangan Chen Mien, rupanya ujung belakang tombak itu diikat tali, sehingga Chen Mien meraik kembali tombak itu dan mengayunkan secara kuat ke arah Tanjung. Ayunan itu berhasil memukul kepala Tanjung sehingga ia pingsan dan dilarikan tentaranya. Lanjut baca!


Kisah Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 2

Kisah Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 2

 Aopok.com - Setelah Ayu meninggalkan ruangan itu, Subodai pun berjalan kembali ke kamarnya. Pada saat ia kembali kekamar, ia hanya duduk dikursinya dan terus membayangi kecantikan wajah dan kemolekan tubuh Ayu. Tanpa disadari seorang tentara mengetuk pintu kamar sang Jendral dan berkata bahwa makan malam telah tiba.

Jendral Subodai baru sadar bahwa ia benggong di kamar sendirian selama dua jam. Maka ia-pun bangkit dari kursinya dan mengikuti makan malam bersama para tentaranya. Pada saat ia makan malam, Subodai terlihat agak kurang nafsu makan dan hanya duduk terbenggong. Meng Chi melihat wajah Subodai dari samping dan tersenyum.


“Jendral, makanan yang terlampau dingin, tidak enak untuk dicicipi” kata Meng Chi.

Subodai terkejut dan baru sadar kalau ribuan tentara sedang memandangnya. Salah satu perwira Subodai yang setia bernama Baatur berkata kepada Jendral Subodai,

“Jendral, ada apa gerangan? Mengapa Jendral terlihat aneh malam ini? Apakah ada masalah besar?”
Subodai bertambah malu dan tidak bisa mengutarakannya, lalu ia tiba-tiba berkata,
“Benar katamu, Aku sedang binggung dalam suatu masalah. Oleh sebab itu, Setelah makan malam, aku akan mengadakan pertemuan untuk membicarakan masalah ini.”

Para tentara itu pun akhirnya melanjutkan makan malam mereka. Meng Chi tersenyum dan berpikir,
“Kau memang bisa menutup rahasia ini dari prang-orang bodoh. Tapi aku bukanlah orang bodoh yang kau kira. Ikan yang busuk, sebagaimana ditutupi, baunya pasti akan tercium juga”.

Setelah makan malam, semua tentara menghadiri pertemuan. Subodai pun berkata,

“Kita ditugaskan oleh Ka-Khan (atau Kaisar Kubilai) untuk menghancurkan kerajaan Kertanegara, namun kerajaan lemah itu telah hancur sebelum kita tiba. Sekarang ada seorang panglima yang bernama Wijaya menawarkan kita untuk bekerja sama dalam menaklukan kerajaan raksasa Kediri dan puluhan kerajaan kecil lainnya. Apabila kita menang, kita akan dihadiahkan setengah dari tanah Jawa. Sekarang aku sedang binggung apakah kita lebih baik kembali ke Monggolia dan melapor semua hal ini kepada Ka-Khan atau kita membantu panglima Wijaya untuk menguasai tanah Nusantara.”

Lalu serentak para tentara itu berteriak,
“Kuasai Nusantara! Kami sudah bosan makan dan tidur. Sudah puluhan tahun kami tidak berperang, Ha ha..”
Mendengar hal itu Jendral Subodai berkata,
“Tapi bukankah itu berarti kita mengabaikan perintah Ka-Khan dan bertindak sendiri?”
Mendengar hal para tentara langsung terdiam. Meng Chi langsung berkata,
“Kalau kita menghancurkan negeri lain, bukankah Ka-Khan akan lebih senang. Tanah Nusantara dapat menjadi hadiah yang sangat istimewa untuk Ka-Khan”.
Para serdadu langsung berteriak setuju kepada ide panglima Meng Chi. Jendral Subodai tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menyetujui hal itu. Namun dalam hatinya ia-pun senang karena ia dapat bertemu dengan Ayu.


Setelah pertemuan selesai, semua tentara dibubarkan dan kembali ke pos masing-masing. Pada malam itu diperkemahan panglima Wijaya juga diadakan rapat militer. Terlihat seorang perwira gagah berbaju panjang terbuat dari sutra dan bergambarkan naga terbang yang mencari bola api. Perwira itu bermata tajam dan berwajah tampan. Namanya adalah Chen Mien. Ia adalah tangan kanan panglima Wijaya. Disamping panglima Wijaya ada seorang perwira brewok yang besar dan gagah perkasa. Tinggi perwira itu mencapai lebih dari dua meter. Tubuh perwira itu penuh dengan otot dan bulu didadanya. Nama perwira itu adalah Suwongso. Lanjut baca!


Viral Kisah Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 1

Viral Kisah Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 1

 Biodataviral.com - Pada suatu malam, dimana para nelayan sedang berlabuh untuk mencari ikan di laut Jawa. Malam gelap gulita, dan tepat pada saat itu terjadi gerhana bulan.

“Wah, bulan menghilang,” kata seorang nelayan sambil mendayung perahunya.
“Sepertinya akan terjadi hal yang buruk, menimpa negeri Jawa,” kata nelayan yang lain.
“Ah.. Itu hanyalah takhyul, jangan percaya yang tidak tidak”


Karena malam itu sangat gelap gulita, maka para nelayan itu menghentikan perahu mereka sesaat agar tidak tersesat di lautan luas. Kemudian terdengarlah suara orang berbicara dan ombak air bergelombang besar.

“Suara apa itu?” tanya seorang nelayan.

Namun karena mereka tidak dapat melihat apa apa, maka mereka pun hanya terdiam saja. Dan kemudian beberapa saat kemudian, gerhana bulan pun selesai. Cahaya bulan kembali bersinar terang. Para nelayan itu kemudian melihat ke arah dimana suara aneh itu datang, dan saat mereka berpaling, terlihatlah sebuah logam baja raksasa bergambar wajah yang menyeramkan.

“Ah Naga raksasa! Ayoo kabur,” teriak salah seorang nelayan.

Namun yang mereka lihat bukanlah seekor naga, namun sebuah kapal raksasa yang berlabuh tepat di depan mereka. Kapal itu berbekal sebuah logam raksasa bertulisan huruf aneh yang menyerupai huruf sansekerta.

“Brak!”

Kapal raksasa itu menabrak perahu nelayan dan para nelayan pun hanyut terseret ombak raksasa yang berasal dari kapal raksasa itu. Salah seorang nelayan sebelum tenggelam ke dalam laut, ia pun merasa kaget dan tidak percaya apa yang baru saja ia lihat. Di belakang kapal raksasa tersebut, ada ribuan kapal raksasa lainnya mengikuti dari belakang. Di setiap tepi kapal ada tiang bendera besar yang melambai-lambai. Bendera itu berwarna kuning emas dan bergambarkan naga yang sedang bersiap perang.

Nelayan itu berteriak,

“Tolong!”

dan dari jauh terlihatlah ada seorang pria berdiri di tepi kapal. Pria itu memakai baju perang aneh yang terbuat dari baja. Kepala pria itu botak dan ada rambut panjang terkepang lurus kebawah di atas kedua telinga mereka. 


Pria itu mengambil suatu benda dimana nelayan tersebut tidak dapat melihatnya, karena sinar bulan yang terang sedikit terhalang kapal. Tiba-tiba sebuah anak panah besar melayang dan tertancap tepat di leher nelayan tersebut. Nelayan itu pun mati dan tenggelam di laut Jawa. Ternyata kapal-kapal raksasa itu adalah kapal milik kerajaan Monggolia dari daratan utara.

Seorang pria yang baru saja memanah nelayan itu ternyata adalah seorang tentara perang. Ia pun pergi ke dalam kapal dan melaporkan yang baru saja ia lakukan kepada atasannya.

“Apakah ada yang berhasil lolos,” tanya atasannya.
“Tidak Jendral Subodai”. Setelah itu ia pun pamit dan kembali ke posnya. Lanjut baca!


Viral Adu Kepiting Berujung Sodok Anus Mia

Viral Adu Kepiting Berujung Sodok Anus Mia

 Piool.com - Aku Anis, kembali akan menyumbangkan suatu kisah tentang sepasang suami istri yang baru saja menikah lalu tinggal di suatu daerah pegunungan yang jauh dari keramaian dengan harapan agar mereka bisa terhindar dari pergaulan, bahaya lalu lintas dan kesalahpahaman dengan orang lain. Di samping itu, ia juga menghindarkan istrinya dari gangguan laki-laki lain yang menyukainya karena istrinya sangat cantik sehingga jadi rebutan di kampung asalnya.


Mereka berdua hidup dalam kesunyian, namun ia tidak kesulitan makanan karena selain ia berkebun dan bertani, juga ia rajin ke sungai untuk menangkap ikan sebagai lauknya. Beberapa bulan kemudian, sang istri mulai mengidam, sehingga membutuhkan makanan tertentu sesuai selera dan keinginannya sebagaimana layaknya perempuan lainnya yang mengidam.

Suatu hari, sang istri tampak tidak enak perasaannya dan selalu emosi akibat pengaruh dari janin yang dikandungnya.

“Mas, boleh ngga minta tolong sama kamu?” tanya sang istri lembut.
“Soal apa dinda?” sang suami balik bertanya dengan lembut pula.
“Aku ingin sekali makan kepiting, Mas. Boleh ngga Mas mencarikan aku?”
“Wah, wah, wah, bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan kepiting di puncak gunung seperti ini?” kata sang suami.
“Tolong cari donk. Berusahalah. Pasti Mas bisa menemukannya. Kalau aku nggak masalah, tapi yang ini nih,” desak sang istri sambil menunjuk janin yang ada dalam perutnya.

Setelah lama didesak, akhirnya sang suami pergi juga meninggalkan rumah untuk mencari kepiting. Dia berjalan mengelilingi hutan dan naik turun dari gunung yang satu ke gunung yang lainnya, bahkan menelusuri beberapa sungai-sungai kecil yang ada di tengah hutan. Ketika ia menemukan sebuah sungai yang agak deras airnya, ia lalu turun dan mencoba mencari lubang-lubang yang ada di pinggirnya.

Setelah ia menemukan suatu lubang yang agak besar dan dalam, ia lalu memasukkan tangannya ke dalam lubang itu. Bahkan mencoba mengeluarkan air dan lumpurnya hingga lubang itu bertambah besar dan dalam, sampai-sampai seluruh badannya bisa masuk. Suluruh tubuhnya basah kuyup dengan lumpur bercampur keringat karena ia merasa penasaran dan yakin sekali kalau dalam lubang itu ada kepitingnya.

Dalam keadaan bermandikan keringat bercampur lumpur, ia mengkonsentrasikan diri hanya pada isi lubang itu, ia lalu membuka seluruh pakaiannya yang basah lagi kotor itu. Tiba-tiba ia mendengar suara kaki berjalan di air. Semakin lama kedengarannya semakin dekat, bahkan terdengar ada suara manusia yang sedang bicara, sehingga ia merasa sangat ketakutan karena selama ia tinggal di daerah itu belum pernah bertemu dengan orang lain kecuali hanya istrinya. “Jangan-jangan orang itu adalah penjahat atau orang hutan”, demikian pikirnya. Ia lalu masuk sekalian ke dalam lubang itu unutk bersembunyi dengan tanpa busana sehelaipun. Dalam keadaan menungging dengan pantat mengarah ke pintu lubang tersebut, ia melihat melalui selangkangannya, ternyata ada 4 betis berdiri hanya kurang lebih berjarak 30 cm dari pantatnya.


Ia gemetar sangat ketakutan sehingga dengan tanpa sengaja kencingnya menetes keluar melalui kontolnya yang tergantung lemas.

“Wah, ini ada buah-buahan langka dan kelihatan indah sekali” sang suami itu mendengar suara dari salah seorang yang kakinya kelihatan itu. Bahkan orang itu sempat meraba dan menarik-narik kontol sang suami yang disangkanya buah-buahan, sehingga sang suami itu semakin ketakutan hingga menyebabkan air kencingnya tambah banyak keluar. Ia tak mau bergerak karena takut diketahui kalau ia adalah manusia. Lanjut baca!


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia