Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Viral Cerita Anal Seks Ambisi Wijaya Brutal 5
Aopok.com - Pada keesokan harinya, perang besar dimulai. Di suatu daerah dekat perbatasan, terbentanglah sawah yang luas. Terlihatlah para petani yang sedang menanam padi. Salah seorang petani terlihat lelah dan sedang berdiri sebentar untuk beristirahat setelah ia capek membungkuk lama. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari jauh. Terjadilah gempa yang dahsyat. Air di sawah itu pun bergetar, dari pelan hingga menjadi besar. Petani itu menjadi binggung. Saat ia melihat keteman-temannya, semua petani lain pun terlihat binggung. Lalu ia mendengar suara dari atas langit.
Saat ia menoleh ke atas, terlihatlah ratusan burung terbang dengan cepat bagaikan menjauhi sesuatu daerah. Petani itu lalu melihat ke arah burung itu datang, dan saat itu ia baru sadar kalau ada asap debu yang mengepul besar ke atas. Ia menjadi takut, dan binggung entah harus kabur kemana, karena didalam hatinya ia berpikir apabila terjadi topan badai yang besar, maka lari pun percuma saja. Kemudian ada seorang petani yang berteriak di atas bukit dari arah asap debu itu.
“Oi.. Ayo cepat kemari, lihat ini!!”.
Petani itu menjadi binggung karena temannya mengajaknya untuk mendekati ke arah datangnya asap debu itu.
“Apakah dia sudah gila” pikirnya dalam hati.
Tetapi ia melihat puluhan petani lainnya berlari ke atas bukit, maka akhirnya ia pun memberanikan dirinya untuk berlari ke atas bukit. Saat ia memanjat bukit, agaklah susah dilakukan karena gempa itu masih belum berakhir. Kemudian saat ia berhasil memanjat sampai ke atas, kini ia baru tahu apa yang sedang terjadi.
Sekitar ratusan ribu tentara berkuda menyerang dari sebelah timur dan menabrak ratusan ribu tentara berkuda lainnya yang menyerang dari sebelah barat. Tanah pun bergoncang hebat akibat perang yang menggila itu. Lebih dari tiga ratus ribu tentara terlibat dalam perang yang begitu dahsyatnya. Para petani tidak percaya apa yang baru saja mereka lihat. Tiba-tiba perang antar pasukan berkuda itu makin membesar dan para petani itu segera lari turun dari bukit itu, dan beberapa saat seketika perang itu menyebar hingga ke sawah.
Puluhan ribu tentara saling membunuh dan membuat sawah itu berubah menjadi warna merah darah. Ternyata tentara yang berperang adalah tentara Nawarjo dan tentara Wijaya. Penglima Nawarjo sendiri yang memimpin perang itu. Perang besar itu terus menyebar dan para tentara ada yang berperang sampai ke dalam hutan didekat daerah itu.
Dari jauh terlihatlah dua orang satria berbaju besi lengkap dan berkuda menerobos sekumpulan tentara. Setiap tentara yang melawan langsung habis dibabat. Ternyata mereka adalah perwira Chen Mien dan perwira Suwongso. Pasangan ganda itu berhasil menerobos ribuan tentara berkuda sampai ke sebuah kereta perang besar yang dijaga banyak tentara. Diatas kereta itu panglima Nawarjo memimpin pasukannya dalam berperang.
Melihat kedua perwira itu menyerang ke arahnya, maka Nawarjo memerintah tentara yang disekitarnya untuk memenggal perwira Suwongso. Ratusan tentara langsung menyerang membabi buta, namun badan Suwongso sangat besar, maka ia dapat menangkis serangan musuh dengan gampangnya. Suwongso lalu mengangkat salah seorang musuhnya lalu dilempar ke tentara lain.
Terkait
“Cepat bunuh keparat Nawarjo, biar aku yang tangani cecurut ini,” teriak Suwongso.
Chen Mien langsung berkuda secepat kilat, ia lalu loncat dari kuda itu dan melayang sejauh tiga setengah meter. Lalu ia melempar tombaknya ke arah Nawarjo. Panglima Nawarjo lalu mengeluarkan pedangnya dan menangkisnya. Lanjut baca!

No comments :
Post a Comment
Leave A Comment...